Tegal  

Jejak Sejarah Klenteng Tek Hay Kiong Tegal, Berusia Sekitar 323 Tahun jadi Saksi Bisu Warga Tionghoa di Tegal

Sejarah Klenteng Tek Hay Kiong yang ada di Jalan Gurami No 2, Tegalsari
Sejarah Klenteng Tek Hay Kiong yang ada di Jalan Gurami No 2, Tegalsari

Tegal, diswaypekalongan.id – Artikel kali ini akan membahas mengenai jejak sejarah dari Klenteng Tek Hay Kiong. Bangunan klenteng ini berada di Jalan Gurami No 2, Tegalsari, Kecamatan Tegal Barat, Kota Tegal, Jawa Tengah. 

Klenteng Tek Hay Kiong merupakan bukti keberadaan etnis Tionghoa di Tegal yang sudah ada sejak sebelum zaman kolonial.

Menurut buku “Melihat Sejarah Tegal dari Sisi Nusantara dan Kolonial”, Klenteng Tek Hay Kiong iIni sudah berdiri sejak abad ke-16 dan mengalami renovasi besar-besaran pada tahun 1873.

Dari renovasi inilah kemudian diberi nama Tek Hay Kiong yang diambil dari nama Kapitan Kota Tegal keenam yaitu Tan Koen Hway.

Renovasi ini dilakukan untuk menjaga keberlanjutan klenteng sebagai tempat ibadah dan juga sebagai simbol keberagaman budaya di Kota Tegal.

Dalam proses renovasi, ada penambahan atau perubahan pada struktur bangunan, seperti penambahan ornamen-ornamen tradisional Tionghoa atau perbaikan pada interior klenteng.

Lebih lanjut, usia Klenteng Tek Hay Kiong diperkirakan mencapai 323 tahun dan saat ini dikelola oleh Yayasan Tri Dharma Tegal.

Bangunan Klenteng Tek Hay Kiong ini melayani perbedaan agama Kong Hu Cu, Tao, dan Budha. Hal ini ditunjukkan dengan 3 tempat persembahyangan yang berbeda.

Dewa utama yang dipuja di Klenteng Tek Hay Kiong adalah Kwee Lak Kwa, yang memegang gelar “Tek Hay Cin Jin”. Dalam ajaran Taoisme, Tek Hay Cin Jin dianggap sebagai manusia sejati yang datang dari laut dan membawa kebijaksanaan seluas lautan.

Oleh karena itu, Klenteng Tek Hay Kiong diartikan sebagai tempat ibadah lautan kebijaksanaan, yang menjadi kediaman Kongco Tek Hay Cin Jin. Menurut cerita, Kongco Tek Hay Cin Jin adalah seorang yang pemberani, rajin, dan ramah.

Baca Juga:  Sejarah Taman Pancasila Kota Tegal, Peninggalan Kolonial Belanda yang Dulunya Bernama Wilhelmina Park

Ia datang dari Tiongkok pada tahun 1733, ia tidak hanya berdagang di sekitar kota-kota pesisir Pantai Utara Jawa, termasuk Kota Tegal, tetapi juga membagikan ilmu-ilmu, seperti pengetahuan, bercocok tanam, berdagang, dan bahkan seni arsitektur seperti pembangunan klenteng.

Pendeta Chen Li Wei mengatakan, sosok Dewa Tek Hay Cin Jin bagi umat Tionghoa di Kota Tegal bukan hanya seorang dewa, namun juga sosok yang dianggap berjasa bagi masyarakat Tionghoa di Kota Tegal.

“Beliau dulu pernah hidup dan menetap di Kota Tegal, mengajarkan masyarakat cara menangkap ikan dan cara bercocok tanam,” ungkapnya.

Selain itu, menurut salah satu versi cerita, Chen Li Wei menjelaskan, bahwa Tek Hay Cin Jin merupakan tokoh pergerakan melawan VOC yakni saat terjadinya pembantaian masyarakat Tionghoa di Batavia tahun 1740.

Atas jasa itulah sosoknya diangkat menjadi dewa oleh umat Tionghoa di Kota Tegal khususnya di Kelenteng Tek Hay Kiong

“Beliau dijadikan dewa atas usul dari masyarakat. Karena masyarakat banyak menerima kemurahan hatinya, kehadirannya banyak memberikan berkah untuk masyarakat,” jelasnya.

Selanjutnya, masyarakat mengirim surat rekomendasi ke Tiongkok untuk menjadikan Tek Hay Cin Jin menjadi dewa di Kelenteng Tek Hay Kiong.

“Dari sana kemudian mengirimkan utusan untuk mencocokkan jasa-jasanya. Setelah disetujui, maka bisa menyandang nama dewa. Karena tanpa persetujuan dari kerajaan Tiongkok, orang tidak bisa sembarang mengangkat jadi dewa,” ujarnya.

Lebih lanjut, di dekat wilayah klenteng juga terdapat sebuah kampung etnis Tionghoa atau Pecinan yang biasa orang Tegal kenal dengan istilah “Paweden”.

Di Pecinan ini terkenal dengan sentra pembuatan kue keranjang atau dodol ranjang yang banyak dibuat saat perayaan Imlek.

Demikian pembahasan mengenai sejarah dari Klenteng Tek Hay Kiong di Tegal. Semoga bermanfaat.