Tegal, diswaypekalongan.id – Bagi warga Tegal pastinya sudah sering melewati Jalan Tirus. Tapi tahukah kamu kalau Jalan Tirus bukan sekedar singkatan dari tikungan lurus.
Sejarah Jalan Tirus Tegal dibalik itu semua karena ada sosok orang Belanda yang baik hati bernama Van Tirus. Beliau merupakan tokoh Belanda yang menetap di Debong, Kecamatan Tegal Selatan.
Di balik sejarah Jalan Tirus Tegal yang jarang diketahui masyarakat, kisah Van Tirus menandakan tidak semua orang Belanda yang mukim di Tegal pada masa penjajahan berprilaku biadab.
Mari kita bahas selengkapnya mengenai sejarah Jalan Tirus Tegal dan sosok Van Tirus dan jejak kebaikannya yang patut kita abadikan. Simak hingga selesai.
Siapakah Sosok Van Tirus?
Van Tirus dulunya hidup di Dukuh Sampak salah satu wilayah yang kini berada di Kelurahan Debonglor, Kecamatan Tegal Selatan, Kota Tegal.
Van Tirus adalah sosok merakyat berperilaku baik. Ia datang ke Indonesia sekitar tahun 1887 sebagai pengusaha kaya raya mendapatkan hak guna tanah di wilayah Dukuh Sampak–sepanjang jalan Kapten Sudibyo. Di sanalah ia tinggal bersama istri dengan tanah sangat luas.
Tanah yang Diwakafkan Van Tirus
Meski merupakan seorang Belanda, Van Tirus memiliki perilaku yang sangat luhur dan penuh kebajikan. Sebuah buku berjudul “Tegal Bercerita”, karya AM. Erwindho H, mengungkapkan bahwa banyak tanah yang dimiliki Van Tirus diwakafkan untuk kepentingan masyarakat pribumi.
Menurut sejarah jalan Tirus Tegal kebaikan yang tercatat dalam buku tersebut, Van Tirus tidak hanya berbudi luhur, tetapi juga merupakan sosok yang sangat anti terhadap penjajahan Belanda.
Van Tirus saat itu menolak untuk mengembalikan tanah yang telah ia kuasai kepada pemerintah Belanda. Sebaliknya, ia memilih untuk mewakafkan tanahnya demi kepentingan masyarakat di tempat ia tinggal.
Salah satu peristiwa sejarah jalan Tirus Tegal yang menjadi titik balik kebaikan Van Tirus adalah ketika ia menyaksikan rombongan masyarakat membawa keranda jenazah melintasi kebun miliknya.
Masyarakat terlihat lelah dan kelelahan karena harus membawa keranda jauh menuju tempat pemakaman.
Sebuah peristiwa pagi itu menyentuh hatinya menjadikan sebuah perenungan mendalam bagi Van Tirus. Prihatinan dengan apa yang dilihat di pagi hari itu, dia tergerak hatinya berbuat untuk kemasalahatan masyarakat. Van Tirus akhirnya mewakafkan sebidang tanahnya untuk lokasi pemakaman.
Lokasi tersebut dipilih agar mudah diakses oleh masyarakat dan tidak terlalu jauh dari pemukiman mereka. Sebuah tindakan yang memperlihatkan kedermawanan dan kepedulian mendalam Van Tirus terhadap sesama.
Tanahnya Diwakafkan untuk Asrama Brimob
Kebaikan Van Tirus tidak hanya sampai di situ. Saat ia hendak pulang ke negeri asal, tanah-tanahnya ia wakafkan pada POLDA Jawa Tengah untuk Brimob.
Hal itu lantaran ia mengetahui ada Kompi Brimob di Tegal tidak memiliki asrama. Maka sebagian dari tanahnya diwakafkan untuk dijadikan Asrama Brimob.
Bangunan Masjid Nurul Iman Debong Lor Milik Van Tirus
Bagi warga Debong Lor, Kecamatan Tegal Selatan tahukah kalau Masjid Nurul Iman dibangun di atas tanah milik siapa? Ternyata di lokasi tempat dibangunnya Masjid Nurul Iman di Dukuh Sempak itu, sebelumnya adalah rumah tempat tinggal milik Van Tirus.
Bahkan Masjid Nurul Iman yang merupakan masjid bekas peninggalan rumah milik Van Tirus hingga saat ini masih berdiri kokoh dan masih digunakan untuk beribadah.
Demikian pembahasan mengenai sejarah Jalan Tirus Tegal yang merupakan ada kebaikan dari tokoh Belanda baik hati. Semoga bermanfaat.






