Slawi  

Mengenal Tradisi Bopong Pengantin yang Ada di Tegal, Sudah dari Zaman Dahulu dan Masih Eksis Sekarang

Tradisi bopong pengantin yang dipercaya untuk menolak bala
Tradisi bopong pengantin yang dipercaya untuk menolak bala

Slawi, diswaypekalongan.id – Setiap daerah pastinya memiliki tradisi prosesi pernikahan yang berbeda-beda. Salah satunya tradisi yang hanya ada di Tegal yaitu tradisi bopong pengantin. 

Saat iring-iringan pasangan pengantin melewati jembatan dengan bentangan sungai besar, mereka dilarang untuk berjalan kaki atau kendaraan. Pasangan pengantin tersebut harus dibopong oleh kedua belah pihak keluarga pasangan pengantin.

Untuk membopong pengantin dari ujung sampai batas jembatan. Jembatan tersebut jika tidak diinjak oleh pasangan pengantin, nantinya riwayat pernikahan mereka tidak akan langgeng.

Selain membopong pengantin melewati jembatan, rombongan pengantin juga wajib membawa ayam atau bebek jantan dan betina, lalu membuangnya ke bawah sungai jembatan. Hal ini dilakukan sebagai bentuk membayar tumbal agar pasangan yang menikah dibebaskan dari malapetaka.

Setelah melewati jembatan dengan dibopong kedua pengantin itu kemudian masuk ke dalam mobil kembali untuk menuju tempat resepsi.

Namun seiring berjalannya waktu, prosesi buang hewan unggas ke sungai di bawah jembatan itu tidak sepenuhnya dibuang. Biasanya hewan unggas yang dibuang itu diperebutkan oleh anak-anak yang sudah menunggu di bawah jembatan

Tradisi bopong pengantin yang dibilang unik itu hampir jarang dilakukan di era modern. Baru-baru ini terjadi saat mempelai putri dari Desa Mejasem Timur, Kecamatan Kramat, Kabupaten Tegal, dan mempelai putra dari Desa Kalimati, Kecamatan Adiwerna, Kabupaten Tegal, melewati jembatan Perpil perbatasan antara Desa Mejasem Barat dan wilayah Kelurahan Slerok, Kecamatan Tegal Timur, Kota Tegal.

Menurut ayah dari mempelai putri, Ipuk Prokem, tujuan iring-iringan sepasang pengantin itu, tengah menuju tempat kediaman mempelai putra.

“Karena tempat kediaman mempelai putra berada di Desa Kalimati, Adiwerna, sedangkan kediaman mempelai putri berada di Desa Mejasem Timur, dan jalan satu-satunya melewati jembatan Perpil. Sesuai tradisi nenek moyang, kedua mempelai pengantin wajib dibopong setelah melepas sepasan titik,” ujarnya.

Baca Juga:  Ulas Jejak Sejarah Berdirinya Pabrik Gula Balapulang yang Dibangun 1875 dan Kini hanya Tinggal Kenangan

“Jalan satu-satunya memang harus melewati Jembatan Prepil tersebut. Sesuai dengan tradisi nenek moyang, kedua mempelai pengantin wajib untuk dibopong setelah melepas sepasang anak ayam,” ungkap ayah dari mempelai perempuan, Ipuk Prokem.

Lebih lanjut dia menuturkan, untuk tugas sebagai pembopong mempelai putri, dipercayakan kepada saudara lelakinya yang dilangkahi adiknya menjalani pernikahan. Sementara bagi mempelai pengantin putra, dilakukan oleh keluarganya.

“Ya prosesi ini kami lakukan karena kabarnya bisa menolak bala. Tapi, sebenarnya yang utama adalah tetap nguri-uri tradisi yang hampir punah,” lanjutnya.

Ditambahkan, tradisi itu tidak hanya prosesi bopong pengantin, melainkan, sebelumnya telah berlangsung “Budaya Halimun”. Tradisi atau Budaya Halimun ini berlangsung usai pasangan pengantin melaksanakan akad nikah.

“Prosesi budaya itu dilaksanakan setelah akid, dan setelah rampung pengantin jejer di pelaminan, mereka melakukan jalan-jalan mengelilingi lingkungan di sekitar kediaman mempelai putri, yang dinamakan Budaya Halimun” ujarnya.

Khusus untuk tradisi yang satu ini, mempelai laki-laki bisa mengenal siapa saja tetangga rumah istrinya. Selain itu, masyarakat setempat juga percaya jika dengan melakukannya, pasangan pengantin bisa terhindar dari berbagai macam masalah, cobaan, dan rintangan berat selama menjalani rumah tangga nantinya.

Tradisi bopong pengantin tak hanya dilakukan di Tegal saja. Di Brebes, Slawi dan Kabupaten Pemalang hal itu masih dipegang teguh.

Nah itulah uniknya tradisi bopong pengantin yang kami rangkum. Semoga bermanfaat.